Showing posts with label Sajakku. Show all posts
Showing posts with label Sajakku. Show all posts

Tuesday, 1 November 2016

Tentang Mencari


Aku pontang-panting mencarimu.
Mencari kenyataan bahwa pada kenyataannya, kau tidak mencari. 

Mondar-mandir, kesana kemari, naik turun, pergi sana sini. 

Dan semua 'ber-hasil'. 

Hasilnya, nihil.
Sekali lagi, kau tidak mencari.


-N

Sunday, 23 October 2016

Bintang


Kau sebut itu bintang.
Ya, sumber cahaya yang amat terang.
Namun, tidak cukup satu untuk benderang;
Butuh banyak bintang untuk menjadikannya bersinar.

Katanya, bintang ini abadi
Menjadi penuntun tiap-tiap teori
Menjadi petunjuk di tata galaksi
Seperti harapan kami

"Kami?"
Tepat sekali.
Satu rumah dengan enam puluh sembilan jiwa
Satu jiwa dengan enam puluh sembilan makna
Satu makna dengan enam puluh sembilan cahaya

"Kami?"
Betul. Bukan saya, bukan engkau
Tetapi kami.

Monday, 17 October 2016

Untukmu (3)

source: Tumblr.com

Matamu adalah racun.
Tidak membunuh, tapi menyakitkan.
Menyakitkan..
Karena matamu tak tahu, 
mataku sering menatapmu.

Sebenarnya, mata ini tidak minta terima kasih.
Hanya.. cobalah, hargai; walau setitik.
Tidak semua orang mau menikmati racun.
Tidak semua orang merasa nyaman menatapmu.
Tapi, aku ada.
Aku mau.
Aku nyaman.
-n

Saturday, 15 October 2016

Untukmu (2)

source:shuttershock.com

Namanya pemberi hidayah dan pertolongan.
Dia baik. Dia cerdik, humoris, dan menarik.
Senyumnya membuat cahaya.
Kau tahu, warna matanya beragam. Kadang cerah, mendung, bahkan hujan. 
Siang dan malamku adalah dia.
Apa yang dikatakannya, bagiku adalah makna.
Apa yang dirasakannya, bagiku adalah bahagia.
Aku tahu.
Aku tahu, baginya, aku adalah angin senja.
Sekadar datang dan pergi tanpa sengaja.
Sekadar lewat dan memberi secuil bekas di pelipis dan rambutnya. 
-n

Thursday, 13 October 2016

Rindu.


Tidak semua orang betah merindu
Bayangkanlah, mata ingin bertemu
Raga ingin menjamu
Semua hanya ada dalam bayangmu

Tidak semua orang ingin merindu
Malam dipenuhi kelabu
Siang diliputi kemarau
Semua menyiksa dirimu

Tidak semua orang mau merindu
Otakmu beku,
Jiwamu layu
Mulutmu hanya mampu diam dan bisu

Lantas, bagaimana?
Bagaimana mereka yang menyukai rindu atas makna?
Bagaimana mereka yang rindu dalam lara?
Bagaimana?

Lantas, apa?
Apa arti rindu menurut mereka, sekuntum-sekuntum jiwa?
Apa yang membuat rindu apa adanya?
Apa?

Ah, rindu
Jangan mau merindu
Rindu bukan sekedar rindu
Rindu adalah penyakit kalbu yang kaku

Rindu...
Jangan mau merindu
Rindu adalah tanggungjawab
Uniknya, rindu adalah nikmat
Mengapa?
Sebab, rindu adalah bejat yang beradab

Jangan mau merindu!
Tapi kalau mau, coba saja
Tapi, jangan deh!
Rindu itu berat.


Saturday, 8 October 2016

Untukmu (1)


Iya, pergilah kemanapun. 
Sesukamu. 
Sejauh apapun. 
Sesukamu.
Melarangmu bukan hal yang baik. 
Karena aku tahu,
Kau pasti pulang, bukan?

Sunday, 18 September 2016

Cerita tentang Peng-'Qurban'-an


Dia menolak lensa.
Berpikir dalam hati dan bertanya.
Tahu sedikit lagi tinggal nama.
Semua terbukti dari matanya yang memberitahu dunia.
Tapi tenang, matinya tidak sia-sia.
Kisahnya bahkan tertera di kitab suci umat manusia.
Yang tersebar di kalangan muda maupun tua.
Untukmu, sapi yang diqurban ayah atas nama Allah.
Semoga berkah. :)


(Idul Adha 2016)

Saturday, 27 June 2015

Dia juga Saksi (1)


Berbunyi.
Berdesit.
Berderit.
Suaramu.......
Berhimpit dengan kakiku,
Menyembunyikan buruknya tumitku.
Menyamarkan lelahnya jari kakiku.

Bagai penguntit;
Bagai mata-mata.
Alasmu,
Talimu,
dan lain-lain termasuk anggotamu;
Mengawasi kakiku, menjaga sepuluh jari kerdilku.

Kau tak punya mulut.
Bisu di hadapanku; 
Sehingga membuatku berpikir; "Tanpamu pun aku masih punya yang lain."

Sekali lagi; bagai penguntit;
Kau bisu dihadapanku.
Menuruti kata hatiku, menemani langkah kakiku.
Namun diammu..
Bekumu..
Dapat mengguncang takdirku.

Kemana aku membawamu pergi? 
Apakah hal itu berguna?
Apakah baik bagiku?
Oh, apakah ia menggiringmu ke tempat yang hina?
yang tak berguna bagiku?

Serendah apapun gesekanmu dengan aspal batu,
Sehening apapun bunyi deritanmu dengan tanah berbau,

Aku tahu, Tuhan bahkan lebih tahu.
Kau;
Bersama kedua kakiku;
Adalah penentu kehidupanku.
Baca : Kehidupan Akhirat-ku.
dan.. bisa saja kehidupan duniaku.