Monday, 12 September 2016

Wednesday, 7 September 2016

Komunikasi; Bukan Sekedar Berkomunikasi

source: weheartit

“Ah, jurusan komunikasi mah gampang, kan kerjanya Cuma berkomunikasi.”
                Pernyataan tersebut sering dilontarkan beberapa orang mengenai jurusan (departemen) Ilmu Komunikasi. Entah tahu atau tidak, padahal sebenarnya komunikasi tidak sesederhana itu.
                Seperti yang disampaikan oleh Kak Hadjir kemarin, Selasa 6/9/2016 dalam agenda PIKNIK yang bertempat di taman FISIP bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang rumitnya komunikasi. Seperti jurusan-jurusan SOSPOL lain yang memiliki manusia sebagai objek materialnya, dan berkomunikasi sebagai objek ‘tak terlihat’-nya. Kakak yang pernah menjabat sebagai Kaisar KOSMIK periode 2013-2014 itu juga mengemukakan bahwa komunikasi adalah hal yang kompleks. Artinya, banyak perbedaan di dalamnya yang harus kita mengerti satu sama lain. Contohnya, attitude, gaya bahasa, mimik wajah, hingga nada suara sekalipun. Coba pikirkan, tak ada manusia yang memiliki mimik wajah yang sama, kan?
                Itulah yang disebut ‘kompleksitas’ dalam ilmu komunikasi.
                Komunikasi juga ternyata dibutuhkan oleh ilmu untuk menjadi eksis dan bersifat lintas batas. Maksudnya, komunikasi adalah induk dari semua ilmu. Coba bayangkan jika sebuah ilmu tidak disampaikan kepada orang lain, atau tidak ditulis melalui buku dan tidak dibagikan lewat media sosial. Bagaimana caranya sebuah ilmu dapat dipelajari?
                Hal terakhir yang saya peroleh—maksudnya yang saya tulis—tentang materi komunikasi adalah tentang teori Marthin Sellingman yang menjelaskan bahwa komunikasi berasal dari bagaimana kita berdialog. Muncullah pengertian antara bertemu dan berjumpa yang ternyata saaaaangat berbeda. Jika kita bertemu, it feels like ‘kau hanya tau saya, tapi tidak dengan ceritaku’. Dan saat bertemu, tidak ada perasaan yang berubah. Berbeda ketika kita berjumpa, hal tersebut bersifat sebaliknya. Ada cerita, saling berbagi, dan ada perasaan yang berubah.
                Dan menurut saya, perjumpaan adalah hal menarik yang pernah ada.
                

Monday, 5 September 2016

Proses itu Penting!

photo by: Kakak Wawan

Yup. Berproses itu penting; Tidak, tidak hanya penting. Berproses itu kebutuhan. Sesuatu yang hebat berasal dari proses yang hebat pula. Kalau kamu sungguh-sungguh dalam proses, mana mungkin Tuhan memberikan hal yang tidak sebanding?
            Tuhan bahkan berjanji, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.
            Hal tersebut bagi saya adalah pesan terbaik yang saya terima ketika mengikuti OBSCURA; Orientasi Bersama Calon Unik dan Radikal pada hari Minggu, 4 September 2016 di gedung FIS III ruang 209 Universitas Hasanuddin. Selama kurang lebih 8 jam kami diberikan pemahaman, materi, dan dibekali ilmu tentang kemahasiswaan dan keorganisasian, juga mengenai KOSMIK—Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi—secara mendalam. Semua materi tentunya dibawakan oleh orang-orang hebat dengan berjuta pengalaman yang telah mereka lalui. Dan pastinya, sangat seru. Seru+++!
            Materi pertama yang diberikan adalah mengenai kemahasiswaan oleh Kak Andrian Akbar—yang akrab disapa Kak Abang. Setiap orang pasti punya perspektif berbeda terkait apa yang mereka peroleh dari materi tersebut, termasuk saya. Dan jujur, dalam hal-hal terkait berdiskusi, forum, ataupun ketika menerima materi, saya lebih senang menulis pesan atau quotes penting dari pemateri dibanding materi yang diberikan—tapi tetap saja, dong, saya memahami dan mengerti apa yang disampaikan pemateri. Dan mengenai materi kemahasiswaan, apa yang saya tangkap adalah tips dan trik penting untuk menjadi mahasiswa keren. Keren disini bukan soal bagaimana kita berpakaian, bergaya, ataupun tentang kekayaan. Keren yang dimaksud adalah tentang cara kita berpikir, bersosialisasi, berkembang, dan yang paling penting adalah bagaimana cara kita menerapkan sesuatu yang bernilai dan baik di mata masyarakat.
            Nah, karenanya, sejak tahun 90-an, mahasiswa—yang dulunya disebut kaum terpelajar—dianggap sebagai agent of change (agen perubahan). Mahasiswa adalah wajah masyarakat. Cerminan masyarakat dalam bertindak—walau tidak semua masyarakat setuju dengan apa yang dipikirkan oleh mahasiswa. Mahasiswa memiliki peran penting dalam perkembangan suatu negara—bahkan dunia. Ingat kan, bagaimana Soekarno dan Bung Hatta seketika memiliki semangat yang berapi-api setelah peristiwa Rengasdengklok di tahun 1945, dimana para golongan muda menculik dua orang terpenting Indonesia di kala itu dan mempengaruhi mereka untuk segera memerdekakan Indonesia.
            Hal terpenting yang saya catat tentang materi kemahasiswaan adalah pesan kak Abang untuk kami, para mahasiswa agar terus bergerak; baik itu dalam berpikir dan bertindak dengan menggunakan media yang sudah ada dan dengan cara yang dewasa.
            Setelah materi kemahasiswaan, kami diberikan materi tentang keorganisasian oleh Kak Aslam Aziz, yang dulunya adalah Kaisar (Ketua) KOSMIK periode 2015-2016 dan ditemani oleh Kak Yudhi, Asisten Bidang Internal KOSMIK saat ini. Selain pemaparan struktur organisasi, kepengurusan, serta sedikit penjelasan mengenai AD/ART dan GBHKO dalam KOSMIK, kami juga berdiskusi tentang hal-hal menarik dan sharing pendapat satu sama lain. Tentang bagaimana sistem pendidikan saat ini yang kompetisinya lebih mementingkan nilai dan angka; Bukan kualitas. Tentang gagasan bahwa manusia adalah manusia, bukan suatu produk yang selalu diberikan ucapan “kami mencetak generasi..”, “kami menghasilkan bibit..”, dan ucapan-ucapan lainnya.
            Melalui perantara Kak Aslam dan Kak Yudhi, kami sebagai penerima materi dibukakan pintu untuk melihat dan menelaah KOSMIK. Ya, Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang bermazhab ‘proses’, dipimpin oleh inisiatif dalam diri kita masing-masing, dengan asas interdipenden yaitu saling bergantung satu sama lain dengan motto unik dan radikal-nya. Dan kutipan terbaik yang saya ambil dari materi keorganisasian—yang berfokus pada KOSMIK—adalah mengenai KOSMIK itu sendiri.
            “KOSMIK keren bukan karena melakukan hal-hal besar. Tetapi karena KOSMIK selalu memperhatikan hal-hal kecil.”-Kak Yudhi
            Terakhir, kami diberi games dan diajak menonton film karya kakak-kakak KOSMIK. Dan tentu saja, semua hal yang diberikan pasti mempunyai pesan penting dan ada saja yang bisa kita petik dari apa yang diberikan. Pastinya, untuk mendukung kita; Mahasiswa baru ke arah yang lebih baik dan tidak pernah puas dalam mencari ilmu.
            OBSCURA adalah pintu pertama kami sebelum melakukan ‘PDKT’ lebih dekat lagi dengan KOSMIK. Dan ini adalah hal terbaik yang pernah ada; Tidak semua orang pun bisa mengikuti prosesnya. Hanya orang-orang terpilih.
            Semoga kedepannya kita semua bisa terus berproses untuk menjadi orang yang lebih baik, dan salah satunya bisa diimplementasikan melalui berpikir dan berkarya dalam KOSMIK. :)
            “Kami tidak melihat hasil. Kami melihat proses!”-Kak Wawan
            SALAM BIRU MERAH!

Tuesday, 30 August 2016

Kenapa Kuliah...?


            Pertanyaan ini adalah salah satu dari beberapa pertanyaan yang entah kenapa susah saya jawab. Seperti pertanyaan “Kenapa kamu daftar masuk TK? SD? SMP? SMA?” dan jujur, saya sempat searching tentang alasan mengapa seseorang harus kuliah—saking bingungnya. Namun mengingat saat P2MB, saya bertemu dengan belasan orang hebat dan memiliki kisah hidup yang keren; Akhirnya saya tau kenapa harus kuliah.
            Kuliah itu satu jalan dengan ribuan pencapaian.
            Kalau kamu kuliah, belajarnya bagus, ibadahnya rajin, organisasinya oke, IPKnya juga mantap, ribuan pekerjaan bakal menanti kamu. Dan tidak menutup kemungkinan beberapa kabar baik akan beruntun datang kepadamu, tidak dengan sendirinya dong. Ya makanya, harus kuliah!
            Selain kehendak orang tua untuk kuliah, saya juga ingin mengejar S1 dan tidak ingin pernah puas dalam menuntut ilmu. Agar nanti, dewasa kelak—kan masih 18 tahun belum dewasa sis­­—saya akan menjadi wanita yang dikejar, bukan mengejar. #ea
            Dan kalimat terbaik yang pernah saya dengar mengenai kenapa harus kuliah—khususnya untuk wanita, adalah kelak anakmu akan memintamu mengerjakan PR-nya. Kalau kamu tidak berpendidikan, bagaimana bisa kau mengajari anakmu? :)

Lalu, kenapa pilih ilmu komunikasi? 
        Nah, dan entah kenapa saya lebih suka dan lebih mudah menjawab pertanyaan ini dibanding pertanyaan sebelumnya ._.
            Saya memilih ilmu komunikasi karena ingin menjadi seperti Najwa Shihab dan Ellen DeGeneress. Itu adalah hal pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan Ilmu Komunikasi. Saya tidak tahu apakah kedua publik figur tersebut berasal dari jurusan Ilmu Komunikasi atau tidak, but lets look bagaimana cara mereka berbicara, berkomunikasi, hingga mampu membuat orang di sekeliling mereka kagum—ilmu seperti itu hanya diperoleh di jurusan ilmu komunikasi.
            Demi apapun, saya benar-benar terpesona melihat Najwa Shihab. Hanya dengan tiga-empat kata dari mulutnya, petinggi negara bahkan bisa bungkam. Terlebih lagi Ellen DeGeneress. Ratusan ribu orang dari berbagai penjuru dunia sangat mencintainya karena selain karakternya yang loveable dan humble to the max, karyanya sudah melanglang buana dari berbagai aspek, mulai dari film (Ia adalah pengisi suara sebagai Dory dalam film “Finding Nemo” dan “Finding Dory”, mempunyai talkshow “The Ellen Show”—yang ini adalah andalang guwe—dan beberapa buku. Sudah ribuan orang terinspirasi karena kebaikannya dan suksesnya dalam berbagai bidang.
            Termasuk saya.
            Alasan selanjutnya saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi adalah tak lain dan tak bukan di jurusan inilah passion saya bisa berkembang, Insya Allah. Sejak kecil, saya senang menulis. Ketika artis “Idola Cilik” sedang booming, saya iseng membuat cerbung (cerita bersambung) yang dimana tokoh-tokohnya adalah artis Idola Cilik itu sendiri. Sejak saat itu, saya mulai suka menulis cerpen, dan sempat berencana membuat sebuah novel—walau gagal :( (padahal sudah bab 14 dan tiba-tiba komputer saya rusak jadi datanya hilang hiks). Selain cerpen dan cerbung, saya juga suka menulis berita. Waktu itu saya ditunjuk sebagai perwakilan dari sekolah menjadi peserta lomba jurnalis KFL 2014 dan DBL 2015 (walau kalah juga wkwk). Dan hal tersebut semakin menarik hati saya untuk masuk dalam jurusan Ilmu Komunikasi.
            Semoga jurusan ini adalah jurusan yang terbaik, dan saya harap ini adalah kado terbaik dari Tuhan, aamiin. #ea :))

            Viva Communication!

Sunday, 28 August 2016

P2MB yang Keren untuk Mahasiswa Oke! (Super Late Post)


         
   ‘Masa paling indah itu bukanlah saat-saat kita SMA. Justru masa dalam hidup kita yang paling indah adalah saat kita duduk di bangku kuliah.’
            Kutipan tersebut saya dengar saat menerima materi dalam kegiatan P2MB (Penerimaan dan Pembinaan Mahasiswa Baru) Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang dilaksanakan selama lima hari, pada tanggal 15 – 20 Agustus 2016.
            Tentu saja, P2MB Universitas Hasanuddin ini bukan sembarang P2MB. Dulu, orang-orang berpikir proses penerimaan adalah hal paling seram yang pernah ada. Langsung terbayang di benak kita betapa tersiksanya batin ini karena harus berhadapan dengan puluhan senior yang super tegas dan garang—belum lagi kalau mereka gondrong—apalagi kalau disuruh yang aneh-aneh seperti berenang di dalam parit, jalan jongkok, hingga berguling di atas lumpur.
            Bersyukurlah kita yang hidup di era modern. Di zaman ini, imej prosesi penerimaan MABA (Mahasiswa Baru) berubah total. Sekarang, prosesi penerimaan lebih mengarah pada hal-hal yang mendidik dan memotivasi mahasiswa untuk perkembangan diri mereka di masa-masa kuliahnya nanti.
            Begitupun dengan prosesi P2MB UNHAS. Yang dulunya disuruh merangkak, sekarang hanya disuruh duduk manis di kursi empuk—bahkan diberi snack sampai makanan berat. Yang dulunya digertak-gertak, sekarang justru diberi apresiasi, pujian, dan motivasi dari orang-orang hebat yang dulunya pernah menginjakkan kaki mereka di UNHAS itu sendiri. Dan jika dulu para MABA disuruh guling-guling di atas aspal, sekarang kita dengan bangganya bisa memakai baju putih, sepatu baru, memakai dasi, dan pastinya almamater kebanggaan warga Unhas, jas merah. Keren, kan!

Sunday, 17 July 2016

Buka Mata


"Sebenarnya, orang yang jahat itu tidak selamanya tidak baik. Sebaliknya, orang baik juga tidak selamanya tidak jahat."


Ya kalo preman jahat, kamu mana tahu ternyata dia rajin salat? Terus, kalau pekerja kantoran itu baik, mana kamu tahu kalau ternyata dia suka menyuap?


Gini deh. Jangan terlalu sering liat orang dari covernya. Novel yang sampulnya cantik dan unik, belum tentu ceritanya oke.


Monday, 11 July 2016

Best Friends


Best Friends (n.)
Someone who laugh at you first when you fall; and be the last person to help you. Talk everything good behind and talk bad in front of. ~; happiest hello and your saddest goodbye.

Friday, 24 June 2016

5 Hari untuk 3 Menit


Rindu sebenarnya sudah menjadi 'anti mainstream' di kalangan kita-kita yang baru lulus SMA. 
Termasuk saya.

Foto keren ini dijepret oleh anak OSIS yang saat itu merupakan parade kelas saya. 
Dan seketika, foto ini mengingatkan betapa berjuangnya kita dulu (teman-teman IPS2) selama 5 hari hanya untuk sesuatu yang pelaksanaannya tidak sampai 3 menit. Bagaimana membuat kapal sebesar itu ditengah-tengah kotornya kelas, derasnya hujan, sampai mati lampu. Bagaimana saya dan Ikky membawa 9 papan kardus naik motor di terik matahari.

Kalau bukan ingin menjadi yang terbaik, kita mungkin tidak akan tahu, bagaimana bahagianya kita saat kapal yang mustahil itu jadi. 
Sejak awal, kalian memang selalu mengejutkan. 
Kalian selalu oke, walau tidak sedikit guru yang memandang remeh.

Jadi, kalau nanti sukses, ingat-ingatlah bagaimana dulu kita pernah berjuang bareng, senang dan sedih bareng, sampe pernah bertengkar satu sama lain. 
Karena sebenarnya, tanpa teman, kita tidak akan menjadi kita.

Hanya saya. Atau aku.

Wednesday, 1 June 2016

Selamat Berbahagia



Banyak yang bahagia saat tahu, masa SMAnya berakhir. Bangga pakai kebaya yang seragam dengan teman kelas, keliling pasar sentral beli alat make-up dan aksesoris, sampai lupa makan dan berdoa. 

Banyak yang bahagia saat tahu, kedepannya tak butuh banyak uang lagi untuk beli seragam sekolah. Bangga menyebarluaskan undangan penamatan sekolahnya, bangga karena kuliah didepan mata.

Banyak yang bahagia. Saya pun.

Tapi, bahagia itu hanya sehari. Ibarat sepersekian detik dalam satu jam. Karena esok, tawa dan tangis akan beradu. Berpacu dalam waktu. Kedepannya, akan ada yang tak tidur mempersiapkan diri. Akan ada yang bermain kotor demi lulus di perguruan tinggi favorit. Akan ada yang menangis dalam doa, memohon agar masa depannya terbuka.

Kau kira, setelah SMA, semua berakhir?
HAHAHAHA.

Selamat datang. :)

Tuesday, 31 May 2016

Awas Merindu.

Untuk kalian-maksudku kita; tujuh sekawan yang tidak pernah lengkap kalau foto bareng (pernah tapi hanya kedua kali).


ini yang pertama

ini kedua

Udah, selanjutnya cuman berenam. Kalo nggak Dea, Husna yang ilang. Atau aden. 
Untung ilangnya cuman di foto. Di hati aku nggak. :)

nih, gak ada dea

ini pas husna sibuk sama event lomba remaja mesjidnya

Untuk kalian, yang sekarang sudah punya tujuan hidup baru. Punya #lifegoals baru. Punya teman, lingkungan, dan segala yang baru.
Aku tahu, aku lama.

Lama dalam ingatanmu, dalam pandanganmu, dalam hidupmu.
Kala pagi datang, kita bertemu, berjamu, dan saling lempar senyum.

Dan sekarang, hal tersebut menjadi 'lama'. "Ah, iya. Itu dulu. Sudah lama sekali..."
Seperti itu.

Untuk kalian, enam penghibur terbaik yang pernah ada.
Untuk kalian, enam sekawan yang paling mengerti kala raga sedang ada apa-apa.

Jaga kita, agar tetap menjadi kita. :)